Perkuliahan Perdana Sistem Penunjang Keputusan Terapkan PJJ Terintegrasi melalui SPADA UNSURYA

Jakarta, 12 September 2026 — Perkuliahan perdana mata kuliah Sistem Penunjang Keputusan (SPK) pada Program Studi D3 Manajemen Informatika dilaksanakan secara Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada pukul 13.00–16.00 WIB. Mata kuliah berbobot 2 SKS tersebut diampu oleh Tata Sumitra, S.Kom., M.Kom., dengan materi utama “Konsep Dasar Sistem Penunjang Keputusan serta Proses, Fase, dan Faktor Pengambilan Keputusan.”

Kegiatan ini menjadi awal dari rangkaian pembelajaran SPK selama satu semester. Perkuliahan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga dirancang untuk membangun kedisiplinan belajar, kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan keterampilan mahasiswa dalam menerapkan konsep SPK melalui kegiatan proyek.

SPADA UNSURYA sebagai Pusat Pembelajaran

Pelaksanaan perkuliahan menggunakan SPADA UNSURYA sebagai pusat kegiatan pembelajaran daring. Seluruh kebutuhan akademik mahasiswa dalam mata kuliah SPK diintegrasikan melalui platform tersebut agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara tertib, terstruktur, terdokumentasi, dan mudah diakses.

Melalui SPADA UNSURYA, mahasiswa dapat:

  • Mengisi daftar hadir pada setiap pertemuan;
  • Mengakses materi pembelajaran yang telah disediakan;
  • Mengikuti dan memberikan tanggapan dalam ruang diskusi;
  • Mengerjakan post-test setelah pemaparan materi;
  • Mengakses petunjuk dan ketentuan tugas;
  • Mengumpulkan tugas sesuai jadwal yang ditentukan;
  • Memantau kegiatan pembelajaran pada setiap pertemuan; serta
  • Mengakses tautan Zoom yang disediakan oleh dosen.

Tautan Zoom untuk pelaksanaan perkuliahan sinkron disediakan melalui SPADA UNSURYA. Dengan demikian, mahasiswa diarahkan untuk mengakses SPADA terlebih dahulu sebelum mengikuti kegiatan pembelajaran. Mekanisme ini juga membantu memastikan bahwa seluruh mahasiswa memperoleh informasi perkuliahan dari sumber yang sama.

Penggunaan SPADA UNSURYA tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan materi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan aktivitas pembelajaran. Kehadiran, partisipasi diskusi, pengerjaan post-test, pengumpulan tugas, dan perkembangan proyek mahasiswa dapat tercatat serta dipantau secara sistematis.

Penjelasan Ketentuan dan Sistem Penilaian

Perkuliahan diawali dengan penjelasan mengenai mekanisme pembelajaran selama satu semester. Mahasiswa memperoleh informasi tentang tata tertib perkuliahan, media pembelajaran, ketentuan kehadiran, pelaksanaan diskusi, post-test, tugas, proyek, ujian, serta komponen penilaian.

Penjelasan tersebut diberikan sejak pertemuan pertama agar mahasiswa memahami hak dan kewajibannya selama mengikuti mata kuliah SPK. Mahasiswa juga diingatkan untuk memperhatikan jadwal, batas waktu pengumpulan tugas, etika berkomunikasi dalam pembelajaran daring, serta keaktifan mengikuti kegiatan sinkron maupun asinkron.

Sistem penilaian dirancang untuk mengukur proses dan hasil pembelajaran mahasiswa secara menyeluruh. Penilaian tidak hanya didasarkan pada hasil ujian, tetapi juga mempertimbangkan kedisiplinan, kehadiran, partisipasi dalam diskusi, pengerjaan post-test, penyelesaian tugas, dan capaian proyek.

Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengejar nilai akhir, tetapi juga mengikuti setiap tahapan pembelajaran secara konsisten dan bertanggung jawab.

Penugasan Proyek Diberikan Sejak Awal Perkuliahan

Sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek, dosen menjelaskan penugasan proyek yang harus dikembangkan mahasiswa secara bertahap selama satu semester. Pemberian proyek sejak awal perkuliahan bertujuan agar mahasiswa memiliki waktu yang cukup untuk memahami permasalahan, mengumpulkan data, menentukan kriteria dan alternatif, memilih metode, melakukan perhitungan, serta menyusun hasil akhir.

Penugasan tersebut menerapkan pendekatan Project-Based Learning (PjBL) yang selaras dengan pelaksanaan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Melalui proyek ini, mahasiswa diarahkan untuk menghasilkan suatu penyelesaian masalah yang menunjukkan ketercapaian kompetensi mata kuliah.

Dalam pengerjaan proyek, mahasiswa akan menjalani beberapa tahapan, yaitu:

  1. Menentukan permasalahan yang membutuhkan dukungan pengambilan keputusan;
  2. Menjelaskan latar belakang dan tujuan penyelesaian masalah;
  3. Menentukan alternatif keputusan;
  4. Menentukan kriteria dan bobot penilaian;
  5. Mengumpulkan data yang diperlukan;
  6. Memilih metode SPK yang sesuai;
  7. Melakukan proses perhitungan dan pemeringkatan;
  8. Menganalisis hasil yang diperoleh;
  9. Menyusun laporan proyek; dan
  10. Mempresentasikan hasil penyelesaian proyek.

Setiap perkembangan proyek akan dibahas dan dievaluasi secara berkala. Pola pengerjaan bertahap ini diharapkan dapat mencegah mahasiswa mengerjakan seluruh proyek hanya pada akhir semester. Dosen juga dapat memberikan arahan dan perbaikan pada setiap tahap sehingga proyek yang dihasilkan memiliki proses yang jelas, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pendalaman Konsep Dasar Sistem Penunjang Keputusan

Setelah penjelasan mengenai ketentuan perkuliahan dan penugasan proyek, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi konsep dasar Sistem Penunjang Keputusan. Mahasiswa mempelajari pengertian, tujuan, karakteristik, manfaat, komponen, dan peran SPK dalam membantu menyelesaikan permasalahan pengambilan keputusan.

SPK dijelaskan sebagai sistem berbasis komputer yang membantu pengambil keputusan dengan menyediakan data, model, analisis, alternatif, dan rekomendasi. Sistem tersebut tidak dirancang untuk menggantikan manusia dalam menentukan keputusan, melainkan mendukung pengambil keputusan agar dapat menghasilkan pilihan yang lebih rasional, objektif, cepat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Mahasiswa juga diperkenalkan pada jenis permasalahan berdasarkan tingkat strukturnya, yaitu permasalahan terstruktur, semi-terstruktur, dan tidak terstruktur. Pemahaman tersebut penting karena setiap jenis permasalahan membutuhkan pendekatan, data, dan tingkat keterlibatan pengambil keputusan yang berbeda.

Melalui materi ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami hubungan antara data, informasi, model keputusan, teknologi, dan pertimbangan manusia dalam menghasilkan suatu keputusan.

Proses dan Fase Pengambilan Keputusan

Pembahasan selanjutnya berfokus pada proses pengambilan keputusan. Mahasiswa mempelajari bahwa keputusan yang baik tidak hanya dinilai dari hasil akhirnya, tetapi juga dari proses yang digunakan untuk menghasilkan keputusan tersebut.

Secara umum, proses pengambilan keputusan mencakup kegiatan mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, merumuskan alternatif, menentukan kriteria, melakukan penilaian, memilih alternatif terbaik, menerapkan keputusan, dan mengevaluasi hasilnya.

Materi juga membahas empat fase utama pengambilan keputusan, yaitu:

  • Intelligence, yaitu fase mengidentifikasi masalah, kebutuhan, dan peluang serta mengumpulkan informasi yang relevan;
  • Design, yaitu fase menyusun model, kriteria, dan berbagai alternatif penyelesaian;
  • Choice, yaitu fase menilai dan memilih alternatif terbaik berdasarkan metode atau pertimbangan yang telah ditentukan; dan
  • Implementation, yaitu fase menerapkan keputusan serta mengevaluasi hasil pelaksanaannya.

Penjelasan setiap fase disertai dengan contoh permasalahan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa maupun kebutuhan organisasi. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menghafal tahapan, tetapi juga memahami fungsi setiap tahapan dalam proses pengambilan keputusan.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keputusan

Selain memahami proses dan fase pengambilan keputusan, mahasiswa juga mempelajari berbagai faktor yang dapat memengaruhi kualitas keputusan. Faktor tersebut meliputi ketersediaan dan keakuratan data, waktu, biaya, risiko, pengalaman pengambil keputusan, kebijakan organisasi, kondisi lingkungan, perkembangan teknologi, serta kepentingan para pemangku kepentingan.

Mahasiswa diajak memahami bahwa keputusan tidak selalu dibuat dalam kondisi yang ideal. Pengambil keputusan sering menghadapi keterbatasan data, waktu, sumber daya, dan ketidakpastian. Oleh karena itu, diperlukan proses analisis yang sistematis agar keputusan yang dihasilkan tetap rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pemahaman terhadap berbagai faktor tersebut juga menjadi dasar penting sebelum mahasiswa mempelajari metode-metode SPK pada pertemuan selanjutnya.

Pembelajaran Interaktif melalui Diskusi

Pemaparan materi dilaksanakan secara interaktif melalui Zoom dengan dukungan aktivitas pembelajaran di SPADA UNSURYA. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, memberikan tanggapan, menyampaikan pendapat, dan mendiskusikan contoh kasus pengambilan keputusan.

Ruang diskusi di SPADA juga digunakan untuk memperluas pembahasan di luar sesi Zoom. Mahasiswa dapat menyampaikan pandangan berdasarkan materi yang telah dipelajari, memberikan respons terhadap suatu kasus, dan menanggapi pendapat mahasiswa lain secara akademik.

Kegiatan diskusi menjadi bagian penting dalam pembelajaran SPK karena mahasiswa perlu dibiasakan untuk melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dilatih untuk menyusun alasan, menggunakan data, membandingkan alternatif, dan menyampaikan argumentasi secara logis.

Post-Test sebagai Tolok Ukur Pemahaman

Setelah pemaparan materi dan kegiatan diskusi selesai, mahasiswa mengerjakan post-test melalui SPADA UNSURYA. Post-test diberikan dalam bentuk soal pilihan ganda yang disusun berdasarkan materi pada pertemuan tersebut.

Pelaksanaan post-test bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman mahasiswa terhadap konsep dasar SPK serta proses, fase, dan faktor pengambilan keputusan. Hasilnya dapat memberikan gambaran mengenai materi yang telah dipahami dan bagian yang masih memerlukan pendalaman.

Bagi dosen, hasil post-test menjadi salah satu bahan evaluasi untuk memperbaiki strategi pembelajaran pada pertemuan berikutnya. Sementara bagi mahasiswa, post-test menjadi sarana untuk melakukan refleksi dan mengetahui sejauh mana mereka telah menguasai materi.

Dengan demikian, post-test tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan penilaian, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan.

PJJ Tetap Terstruktur dan Berorientasi pada Capaian

Meskipun dilaksanakan secara PJJ, seluruh rangkaian perkuliahan dapat berjalan secara terstruktur, mulai dari pengisian daftar hadir, penjelasan ketentuan perkuliahan, penyampaian sistem penilaian, pembagian tugas proyek, pemaparan materi, diskusi, hingga pengerjaan post-test.

Integrasi antara SPADA UNSURYA dan Zoom mendukung pelaksanaan pembelajaran sinkron maupun asinkron. Zoom digunakan untuk interaksi langsung antara dosen dan mahasiswa, sedangkan SPADA menjadi pusat aktivitas, sumber materi, dokumentasi, diskusi, penugasan, dan evaluasi pembelajaran.

Melalui perkuliahan perdana ini, mahasiswa diharapkan memperoleh fondasi yang kuat untuk mempelajari berbagai metode Sistem Penunjang Keputusan pada pertemuan berikutnya. Mahasiswa juga diharapkan mampu menjaga kedisiplinan, aktif dalam diskusi, menyelesaikan post-test dan tugas tepat waktu, serta mengembangkan proyek secara bertahap hingga akhir semester.

Pelaksanaan pembelajaran ini menunjukkan komitmen Program Studi D3 Manajemen Informatika dalam menyelenggarakan pendidikan yang adaptif terhadap teknologi, terukur, dan berorientasi pada capaian pembelajaran. Dengan dukungan SPADA UNSURYA, PJJ tidak hanya menjadi sarana penyampaian materi, tetapi juga menjadi lingkungan pembelajaran digital yang mendorong mahasiswa untuk belajar secara aktif, mandiri, dan bertanggung jawab.

Scroll to Top