Jakarta, 8 September 2026 – Perkuliahan perdana mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak dilaksanakan secara daring pada Selasa, 8 September 2026, pukul 10.30–12.30 WIB. Kegiatan pembelajaran ini diikuti oleh 16 mahasiswa kelas reguler pagi Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya).
Pelaksanaan perkuliahan secara daring mengacu pada Surat Edaran Rektor Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Nomor SE/Unsurya/49/IX/2026 tentang Penyesuaian Pelaksanaan Perkuliahan dan Operasional Kantor akibat dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan surat edaran tersebut, perkuliahan yang bersifat teori dilaksanakan secara daring mulai Senin, 7 September 2026, sampai dengan pemberitahuan lebih lanjut. Kebijakan ini diterapkan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan sivitas akademika sekaligus memastikan proses pembelajaran tetap berjalan sesuai jadwal dan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.
Pengenalan Ruang Lingkup Rekayasa Perangkat Lunak
Pada pertemuan pertama, mahasiswa memperoleh penjelasan mengenai ruang lingkup mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak. Pembahasan meliputi pengertian perangkat lunak, karakteristik perangkat lunak, perbedaan perangkat lunak dengan program komputer, proses pengembangan, serta pentingnya menerapkan pendekatan yang sistematis dalam menghasilkan perangkat lunak berkualitas.
Mahasiswa juga diperkenalkan dengan tahapan utama pengembangan perangkat lunak, mulai dari identifikasi masalah, analisis kebutuhan, pemodelan, perancangan, implementasi, pengujian, dokumentasi, penerapan, hingga pemeliharaan perangkat lunak.
Melalui pengenalan tersebut, mahasiswa diarahkan untuk memahami bahwa pengembangan perangkat lunak bukan hanya kegiatan menulis kode program. Rekayasa perangkat lunak merupakan disiplin ilmu yang mengintegrasikan aspek teknis, manajerial, komunikasi, dokumentasi, kerja sama tim, dan penjaminan mutu dalam menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Selain penyampaian materi pengantar, dosen menjelaskan Rencana Pembelajaran Semester, capaian pembelajaran, materi setiap pertemuan, metode pembelajaran, bentuk penugasan, sistem evaluasi, tata tertib perkuliahan, dan pelaksanaan proyek selama satu semester.
Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education
Proses pembelajaran mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak dirancang dengan menerapkan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Pendekatan OBE menempatkan capaian pembelajaran mahasiswa sebagai fokus utama dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.
Setiap materi, aktivitas pembelajaran, tugas, post-test, dan proyek disusun agar selaras dengan kemampuan akhir yang harus dicapai mahasiswa. Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran tidak hanya dinilai berdasarkan tersampaikannya materi, tetapi juga berdasarkan kemampuan mahasiswa dalam memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengintegrasikan pengetahuan yang telah dipelajari.
Penerapan OBE diharapkan dapat membentuk mahasiswa yang memiliki penguasaan pengetahuan, keterampilan teknis, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kerja sama, tanggung jawab profesional, serta kemampuan menyelesaikan permasalahan di bidang pengembangan perangkat lunak.
Dosen juga dapat menggunakan hasil evaluasi pembelajaran sebagai bahan untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran sekaligus menentukan tindak lanjut apabila masih terdapat materi yang belum dipahami secara optimal oleh mahasiswa.
Pembagian Kelompok Project-Based Learning
Salah satu agenda utama dalam pertemuan pertama adalah pembahasan pembagian kelompok untuk melaksanakan Project-Based Learning (PjBL). Sebanyak 16 mahasiswa akan dibagi ke dalam beberapa kelompok dan bekerja secara kolaboratif untuk merencanakan serta mengembangkan proyek perangkat lunak selama satu semester.
Pemberian proyek sejak awal perkuliahan bertujuan agar mahasiswa memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan setiap tahapan pengembangan perangkat lunak secara sistematis. Proyek akan dimulai dari identifikasi permasalahan nyata, penentuan objek atau calon pengguna, analisis kebutuhan, pemodelan proses dan data, perancangan antarmuka, implementasi, pengujian, dokumentasi, hingga presentasi hasil proyek.
Melalui kegiatan berbasis proyek, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga menerapkannya dalam konteks penyelesaian masalah nyata. Setiap kelompok dituntut mampu mengatur pembagian tugas, menyusun jadwal pekerjaan, mendokumentasikan perkembangan proyek, menyelesaikan kendala, dan mempertanggungjawabkan hasil kerja secara akademik.
Project-Based Learning juga menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, kreativitas, pemecahan masalah, dan tanggung jawab profesional. Kompetensi tersebut dibutuhkan dalam pelaksanaan proyek perangkat lunak, baik di lingkungan akademik maupun dunia kerja.
Informasi lengkap mengenai ketentuan dan tahapan proyek dapat dipelajari melalui halaman Project-Based Learning – Rekayasa Perangkat Lunak pada SPADA Unsurya.
Post-Test sebagai Evaluasi Pemahaman Setiap Materi
Pada akhir setiap sesi pembelajaran, mahasiswa diwajibkan mengerjakan post-test yang telah disiapkan sesuai dengan materi yang dibahas pada pertemuan tersebut. Post-test menjadi bagian dari asesmen formatif yang dilaksanakan secara berkelanjutan selama satu semester.
Pelaksanaan post-test bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman mahasiswa terhadap materi ajar pada setiap sesi. Melalui hasil post-test, dosen dapat memperoleh informasi mengenai konsep yang telah dipahami dengan baik dan bagian materi yang masih memerlukan penjelasan, penguatan, atau pembahasan ulang.
Secara akademik, post-test memiliki beberapa fungsi penting, yaitu:
- Mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran pada setiap pertemuan.
- Mengetahui tingkat penguasaan mahasiswa terhadap konsep yang telah dipelajari.
- Mengidentifikasi kesulitan belajar atau miskonsepsi yang dialami mahasiswa.
- Memberikan umpan balik kepada mahasiswa mengenai perkembangan belajarnya.
- Menjadi bahan evaluasi bagi dosen dalam memperbaiki strategi dan metode pembelajaran.
- Mempersiapkan mahasiswa untuk mengintegrasikan teori ke dalam pelaksanaan proyek.
- Mendukung dokumentasi ketercapaian pembelajaran dalam pelaksanaan kurikulum berbasis OBE.
Hasil post-test tidak hanya dipandang sebagai nilai, tetapi juga sebagai data akademik untuk memantau perkembangan pembelajaran mahasiswa. Apabila ditemukan capaian yang belum optimal, dosen dapat melakukan tindak lanjut melalui penjelasan tambahan, diskusi, pemberian contoh kasus, materi pengayaan, atau kegiatan remedial.
Dengan mekanisme tersebut, proses evaluasi tidak hanya dilakukan pada saat Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester. Evaluasi berlangsung secara bertahap pada setiap pertemuan sehingga kemajuan belajar mahasiswa dapat dipantau secara lebih objektif, terukur, dan berkesinambungan.
Integrasi Materi, Evaluasi, dan Proyek
Pelaksanaan pembelajaran dirancang dengan mengintegrasikan tiga komponen utama, yaitu penguasaan materi, evaluasi melalui post-test, dan penerapan pengetahuan melalui proyek kelompok.
Materi yang disampaikan dalam setiap pertemuan memberikan landasan konseptual kepada mahasiswa. Post-test digunakan untuk mengukur pemahaman individual terhadap materi tersebut, sedangkan Project-Based Learning memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dalam kegiatan pengembangan perangkat lunak secara nyata.
Integrasi ini penting karena keberhasilan pembelajaran Rekayasa Perangkat Lunak tidak cukup diukur hanya melalui kemampuan mahasiswa menjawab soal teori. Mahasiswa juga harus mampu menerapkan konsep, bekerja dalam tim, menghasilkan dokumentasi, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, serta mengembangkan produk perangkat lunak sesuai kebutuhan pengguna.
Dengan demikian, asesmen pembelajaran mencakup kemampuan individual dan kelompok. Post-test mengukur penguasaan materi setiap mahasiswa, sedangkan proyek digunakan untuk menilai kemampuan penerapan, kolaborasi, komunikasi, pengelolaan proses, dan kualitas hasil pengembangan perangkat lunak.
Pemanfaatan SPADA dan Media Pembelajaran Daring
Meskipun perkuliahan dilaksanakan secara daring, proses pembelajaran tetap berlangsung secara terstruktur dan interaktif melalui penyampaian materi, diskusi, tanya jawab, penugasan, pembentukan kelompok proyek, serta pelaksanaan post-test.
SPADA Unsurya dan media pembelajaran daring dimanfaatkan untuk mendistribusikan materi, menyampaikan informasi perkuliahan, mengumpulkan tugas, melaksanakan evaluasi, memantau perkembangan proyek, dan mendokumentasikan aktivitas pembelajaran.
Pemanfaatan teknologi pembelajaran diharapkan dapat mendukung terciptanya proses perkuliahan yang fleksibel, terdokumentasi, terukur, dan tetap berorientasi pada capaian pembelajaran.
Perkuliahan perdana ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk memahami proses pengembangan perangkat lunak secara utuh. Melalui penerapan kurikulum berbasis OBE, Project-Based Learning, dan post-test pada setiap sesi, mahasiswa diharapkan mampu menguasai konsep sekaligus menerapkannya dalam pengembangan perangkat lunak yang terencana, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Penulis: Tata Sumitra, S.Kom., M.Kom.
Dosen Pengampu Mata Kuliah Rekayasa Perangkat Lunak
