Jakarta — Pemanfaatan teknologi digital dalam pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi perkuliahan, tetapi juga bagaimana proses evaluasi dapat membantu mahasiswa memahami pembelajaran secara lebih baik. Hal tersebut menjadi fokus penelitian Tata Sumitra, S.Kom., M.Kom., bersama tim peneliti Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (UNSURYA) melalui penelitian berjudul Pengaruh Online Assessment Moodle dengan Umpan Balik Langsung terhadap Kinerja Mahasiswa Sistem Informasi UNSURYA.
Penelitian yang dilaksanakan pada tahun anggaran 2026 ini mengkaji pemanfaatan Moodle sebagai Learning Management System (LMS), khususnya dalam pelaksanaan evaluasi daring atau online assessment yang dilengkapi fitur umpan balik langsung (immediate feedback) dan kesempatan mengulang pengerjaan evaluasi (repeat attempt).
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin pentingnya pengembangan pembelajaran digital yang fleksibel, interaktif, dan berorientasi pada kebutuhan mahasiswa. Dalam proses pembelajaran, evaluasi tidak seharusnya hanya menjadi sarana pemberian nilai, tetapi juga dapat berfungsi sebagai bagian dari proses belajar yang membantu mahasiswa mengenali kekurangan, memahami kesalahan, dan memperbaiki penguasaan materi.
Melibatkan Mahasiswa dan Menggabungkan Pendekatan Kuantitatif-Kualitatif
Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential explanatory, yaitu menggabungkan analisis kuantitatif dan pendalaman kualitatif untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.
Data penelitian diperoleh melalui kuesioner terhadap 34 mahasiswa yang aktif menggunakan Moodle dalam proses pembelajaran di lingkungan Program Studi Sistem Informasi UNSURYA. Analisis kuantitatif meliputi statistik deskriptif, korelasi Pearson, regresi linear sederhana, dan koefisien determinasi. Sementara itu, analisis kualitatif digunakan untuk memahami persepsi serta pengalaman mahasiswa selama menggunakan sistem evaluasi digital tersebut.
Hasil penelitian memperlihatkan respons yang positif terhadap penggunaan Moodle. Sebanyak 70,6% responden menyatakan Moodle mudah digunakan, sedangkan 76,5% menilai pembelajaran menjadi lebih fleksibel. Selain itu, 73,5% responden menyatakan dapat mengetahui nilai secara langsung setelah evaluasi, dan 76,5% menyatakan umpan balik yang diberikan mudah dipahami.
Temuan lainnya menunjukkan bahwa 67,6% responden merasa terbantu dalam memahami kesalahan melalui umpan balik, sementara 76,5% menyatakan fitur pengulangan pengerjaan evaluasi membantu meningkatkan nilai.
Korelasi Kuat dengan Kinerja Mahasiswa
Dari sisi analisis statistik, penelitian memperoleh nilai korelasi Pearson sebesar r = 0,720, yang menunjukkan hubungan positif dan kuat antara penggunaan online assessment Moodle dan kinerja mahasiswa. Nilai signifikansi yang dilaporkan sebesar 0,001, lebih kecil dari batas 0,05.
Hasil regresi linear sederhana menghasilkan persamaan Y = 12,50 + 0,68X, dengan koefisien determinasi R² = 0,520. Dalam model penelitian ini, penggunaan online assessment Moodle menjelaskan sekitar 52% variasi kinerja mahasiswa, sedangkan 48% sisanya berkaitan dengan faktor lain di luar model.
Hasil tersebut memberikan indikasi bahwa kualitas pemanfaatan evaluasi digital memiliki keterkaitan penting dengan pengalaman dan kinerja belajar mahasiswa. Meski demikian, angka kontribusi statistik tersebut perlu dipahami secara proporsional. Penelitian ini menggunakan data dari 34 responden dan desain observasional berbasis kuesioner, sehingga hasilnya menunjukkan hubungan statistik dan belum dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat atau peningkatan nilai akademik yang terukur secara objektif.
Dari perspektif pengalaman belajar, 70,6% responden menyatakan motivasi belajar meningkat, 73,6% menyatakan lebih aktif, dan 58,8% menyatakan mengalami peningkatan pemahaman maupun hasil belajar. Temuan persepsi ini memperkuat pentingnya memperhatikan pengalaman mahasiswa dalam merancang sistem evaluasi pembelajaran digital.
Umpan Balik Bukan Sekadar Nilai
Salah satu aspek penting dalam penelitian ini adalah peran umpan balik langsung. Ketika mahasiswa memperoleh informasi hasil evaluasi dan penjelasan mengenai kesalahan secara cepat, mereka memiliki kesempatan untuk segera meninjau kembali materi yang belum dikuasai.
Fitur repeat attempt juga membuka peluang pembelajaran yang lebih berkelanjutan. Kesempatan mengulang evaluasi dapat mendukung prinsip mastery learning, selama pelaksanaannya dirancang dengan baik, disertai variasi soal yang memadai, aturan pengerjaan yang jelas, dan umpan balik yang mendorong pemahaman, bukan sekadar perburuan nilai.
Dengan demikian, pemanfaatan Moodle perlu ditempatkan sebagai bagian dari desain pembelajaran yang utuh. Teknologi akan memberikan manfaat lebih besar apabila terintegrasi dengan tujuan pembelajaran, kualitas soal, strategi pengajaran, dan pendampingan dosen.
Tantangan Infrastruktur dan Kualitas Layanan Digital
Penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah kendala yang dialami mahasiswa, antara lain server yang melambat ketika banyak pengguna mengakses sistem secara bersamaan, koneksi internet yang tidak stabil, notifikasi yang belum optimal, serta antarmuka pengguna (user interface/user experience) yang masih perlu ditingkatkan.
Kendala tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital pendidikan tinggi tidak cukup hanya dengan menyediakan platform pembelajaran. Institusi juga perlu memperhatikan kapasitas server, keandalan jaringan, kemudahan akses, serta dukungan teknis agar layanan pembelajaran dapat berjalan secara konsisten.
Ketersediaan infrastruktur yang memadai menjadi penting untuk memastikan bahwa evaluasi digital tidak menimbulkan hambatan baru bagi mahasiswa, terutama ketika pelaksanaan ujian atau kuis dilakukan secara serentak.
Rekomendasi untuk Pengembangan Pembelajaran Digital
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa arah pengembangan yang relevan bagi perguruan tinggi. Pertama, dosen dapat mengoptimalkan penggunaan immediate feedback melalui umpan balik yang jelas, spesifik, dan berorientasi pada perbaikan pemahaman.
Kedua, fitur repeat attempt dapat dirancang sebagai bagian dari strategi pembelajaran formatif, dengan memperhatikan integritas akademik dan kualitas instrumen evaluasi. Ketiga, institusi perlu memperkuat infrastruktur LMS, meningkatkan pengalaman pengguna, serta melakukan evaluasi berkala terhadap efektivitas layanan pembelajaran digital.
Penelitian lanjutan juga perlu memperluas jumlah dan cakupan responden, mengintegrasikan data nilai akademik aktual, serta mempertimbangkan desain penelitian yang lebih kuat untuk menguji dampak penerapan online assessment terhadap capaian belajar mahasiswa.
Mendorong Evaluasi Digital yang Lebih Berorientasi pada Pembelajaran
Penelitian Tata Sumitra dan tim memberikan gambaran bahwa Moodle berpotensi menjadi lebih dari sekadar tempat mengunggah materi atau menyelenggarakan kuis. Dengan desain evaluasi yang tepat, LMS dapat menjadi sarana untuk membangun proses belajar yang lebih responsif, reflektif, dan berkelanjutan.
Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi dosen, pengelola program studi, dan institusi pendidikan tinggi dalam mengembangkan strategi transformasi digital pembelajaran yang tidak hanya menekankan penggunaan teknologi, tetapi juga kualitas pengalaman dan hasil belajar mahasiswa.
Tentang Penelitian
Judul: Pengaruh Online Assessment Moodle dengan Umpan Balik Langsung terhadap Kinerja Mahasiswa Sistem Informasi UNSURYA
Ketua Peneliti: Tata Sumitra, S.Kom., M.Kom.
Tim Peneliti: Dedi Setiadi, S.E., M.Kom.; Peniarsi, S.Kom., M.MSi. (sebagaimana tercantum pada bagian tim penelitian); dan Heimer Totononu.
Institusi: Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (UNSURYA)
Tahun: 2026
Skema: Penelitian Fundamental
