Kesan Pertama Menginjakkan Kaki di Negeri Tirai Bambu, China

Telah di Baca 77 kali

Perjalanan menuju Beijing dimulai. Pramugari yang ramah mempersilahkan saya untuk menempati tempat duduk sesuai boarding pass. Cuaca pada malam itu cukup baik, Penerbangan berlangsung lancar nyaris tanpa goncangan.Setelah penerbangan selama 7 jam 15 menit lamanya dari Bandara Internasinal Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, Indonesia akhirnya mendarat di Bandara Internasional Beijing (PEK) di Beijing, Cina. Turun dari pesawat, saya menuju pintu kedatangan. namun terlebih dahulu melewati bagian Imigrasi China, di loket imigrasi, diharuskan mengisi sebuah formulir kartu imigrasi berwarna kuning yang telah disediakan atau mengecek dimesin aplikasi. Kemudian petugas mengarahkan saya untuk menuju loket pemeriksaan.

Pada loket pemeriksaan, ada 2 loket  saat melewati pemeriksaan imigrasi terlihat antrian ramai untuk warga Negara Local China dan pendatang negara asing yang baru tiba untuk melapor,setelah menunggu antrian yang panjang tiba saatnya petugas meminta saya menunjukan paspor dan formulir yang telah diisi di loket tadi. Petugas imigrasi tersebut tidak banyak bertanya. Setelah menunjukkan paspor dan formulir, petugas mengambil formulir yang telah diisi dan menceklis bagian visa paspor saya.

Sangat berbeda perlakuan petugas imigrasi tersebut dengan kedua orang sebelum saya, Ada pertanyaan kecil yang timbul atas kejadian yang baru saja terjadi “kok beda ya?”, “Mengapa saya tidak ditanya banyak pertanyaan?”. Mereka hanya meminta saya untuk menempelkan sidik jari saya ke mesin yang telah disediakan。Pertanyaan tersebut terjawab setelah beberapa hari karena keterangan dari beberapa orang teman bahwa mungkin saja penyebabnya adalah saya memegang paspor ”Biru” yaitu Paspor Dinas. Paspor Dinas ini adalah paspor yang dikeluarkan oleh pejabat berwenang di Negara kita (Indonersia) kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Konsultan Pemerintahan yang akan melaksanakan Perjalanan Dinas Luar Negeri. Dugaan kedua adalah visa yang digunakan adalah Visa Dinas. Sebagaimana diketahui bahwa Negara China sangat ketat dan berhati-hati dalam hal memeriksa setiap orang yang akan masuk ke Negara mereka.

Setelah keluar dari bagian Imigrasi China, tempat yang dituju adalah pengambilan bagasi. Kemudian lanjut ke loket pemeriksaan terakhir sebelum menuju terminal kedatangan saya menyempatkan diri untuk ke counter China Unicom meskipun harga nya agak mahal karena beli dibandara, menurut saya komunikasi yang utama untuk tempat yang baru dikunjungi karena informasi yang saya ketahui setelah browsing informasi mengenai China, China terkenal dengan pemblokiran lebih dari 2000 situs, termasuk hampir semua media sosial dan messenger yang biasa dipakai di Indonesia. Google beserta semua produk turunannya (email, maps dan lain-lain), Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, Line adalah termasuk aplikasi yang gak bisa dipergunakan di China bila kita menggunakan sim card lokal (China Unicom maupun China Mobile). Kalaupun mau sedikit repot bisa tetap memakai sim card lokal tapi harus menggunakan aplikasi VPN berbayar supaya bisa berinternet dengan lancar tanpa blokir apapun.

Sama seperti saat melewati bagian Imigrasi, dilanjutkan ke loket pemeriksaan terakhir pengecekan bagasi tidak ada pertanyaan yang merepotkan untuk dijawab dan saya dapat keluar menuju terminal kedatangan tanpa ada kendala. Di terminal kedatangan, saya telah dijemput oleh Bapak Riyono (lokal staf atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing) dan Pak Wang (supir yang diperbantukan untuk menjemput saya). Kami bertiga pun menuju tempat parkir mobil sambil membawa barang bawaan yaitu 2 buah koper kecil dan 1 tas kecil.

Waktu sudah menunjukan pukul 02.00 pagi, saya menuju tempat parkir dan melanjutkan perjalanan menuju ke penginapan sementara untuk beristirahat sejenak dan bersih-bersih mandi langsung melaksanakan holat subuh pukul 02.38 pagi, matahari terbit pun sudah pukul 04.51 matahari sudah sangat terang sekali. Waktu pun sudah Pukul 07.00 dilanjutkan bergegas berangkat menuju KBRI Beijing menggunakan transportasi umum dengan bis yang diajarkan teman satu apartemen dengan membayar 2 Yuan atau kuai, jarak yang ditempuh ke penginapan sementara hanya ±50 menit.

Sebenarnya untuk Penugasan pada KBRI Beijing ada 2(dua) orang peserta magang yaitu saya dan teman saya dari BPNB Yogyakarta karena teman saya yang seharusnya satu pesawat dengan saya telah mengalami ketinggalan pesawat dari yogya dan tidak dapat menyusul pada hari yang sama dan ketika pengurusan tiket dapat terbang untuk di hari berikutnya,Maka saya mengawali untuk melaporkan diri ke KBRI. Setibanya di KBRI saya langsung menghadap atase pendidikan untuk meminta pengarahan selama saya melaksakan magang di KBRI. Arahan dari pak Atdik mengenai jam kerja, pakaian dan penempatan tugas yang akan dirotasi seuai dengan kebutuhan dan keadaan, untuk arahan selanjutnya besok akan dikenalkan pada lingkungan KBRI, disampaikan juga informasi dari atase pendidikan penginapan kami belum didapatkan, karena untuk harga yang kami dapatkan dari beasiswa unggulan disekitar KBRI dan lainnya tidak memasuki pagu. dan penginapan masih dicarikan oleh pak wang staf yang ditugaskan untuk mencarikan penginapan oleh atase pendidikan, arahan pada saat itu saya masih diinapkan sementara dengan staf badan bahasa yang telah mengajar bahasa Indonesia didaerah dan telah ada dibeijing untuk menunggu anggota tim bahasa yang masih didaerah dan mengurus kepulangan awal bulan agustus ini.

Pada saat itu di KBRI Beijing tidak terlalu banyak kegiatan, tugas pertama yang diberikan yaitu membuat absensi manual untuk selama 5,5 bulan serta mendiskusikan program kerja yang saya ajukan ketika mengajukan persyaratan adminstrasi calon peserta program magang kerja luar negeri。Tidak terasa hari sudah menunjukan pukul 12 waktu jam istirahat s.d. pukul 13.30 kami pun bergegas untuk keluar makan siang dan mencari restoran siap saji yang halal yang dekat dengan KBRI dengan berjalan kaki jarak yang ditempuh kira-kira ±2 Kilo ada restoran Mahua,Pilihan makanannya juga banyak dan memakai tulisan berbahasa mandarin aksara china, karena porsinya banyak saya memilih untuk sharing makanan。 Untuk informasi dalam bahasa mandarin kata “halal” disebut dengan Qingzhen Cai (清真菜). Makanan halal di Tiongkok mudah ditemukan di banyak kota besar karena ada banyak populasi umat Muslim di Beijing. Restoran kecil atau besar yang menyediakan makanan halal sudah lazim ditemui di Tiongkok karena banyaknya warga Muslim dari yang bermigrasi dari Tiongkok Barat. Biasanya restoran Muslim dirintis oleh imigram Muslim.

setelah selesai makan siang kami langsung bergegas ke KBRI kembali dan harus selalu membiasakan diri untuk berjalan kaki masih ada waktu untuk melaksanakan sholat dzuhur,dan pak atase pendidikan memperkenalkan saya dengan mba Wenny Lia sekretarisnya bapak duta besar dan ibu DCM meminta menyampaikan ke ibu DCM meminta waktu untuk menghadap。Beberapa menit kemudian mba wenny mempersilahkan kami untuk masuk keruangan DCM . Pak Atase pendidikan mengantarkan saya menghadap ibu Wakil Kepala Perwakilan/Kepala Kanselerai atau Deputy Chief of Mission (DCM)。 Ibu yang ramah,memiliki jiwa pemimpinan dan berkharisma mempersilahkan saya untuk duduk dan mengenalkan lingkungan KBRI ke saya dengan penuh bijaksana dan menerangkan detail struktur organisasi dan pekerjaan yang akan saya lakukan。

Untuk informasi adalah diplomat nomor dua yang ditugaskan di kedutaan atau misi diplomatik lainnya. Dia biasanya dianggap sebagai komandan kedua di kepala misi (biasanya seorang duta besar). DCM berfungsi sebagai chargé d’affaires (yaitu, bertindak sebagai kepala misi) ketika kepala misi tituler berada di luar negara tuan rumah atau ketika pos tersebut kosong.

DCM biasanya berfungsi sebagai penasihat utama bagi kepala misi dan juga sebagai kepala staf, yang bertanggung jawab atas manajemen pos harian. DCM akan mengawasi kepala bagian (politik, ekonomi, imigrasi,sosial budaya,pertahanan,perdagangan,Komunikasi atau urusan publik, manajemen, konsuler) di kedutaan, seperti DCM juga berfungsi sebagai ombudsman de facto, menanggapi kekhawatiran karyawan dan masalah kualitas hidup. Sebagian besar duta karier telah melayani sebagai DCM sebelum penugasan pertama mereka sebagai kepala misi. Dalam keadaan di mana duta besar bukan diplomat karier (seperti Duta Besar AS untuk Inggris, yang sering menjadi penggalang dana politik untuk Presiden AS) peran DCM dapat meningkat, dengan seorang diplomat senior yang menduduki peran tersebut.

Setelah 2 jam waktu berlalu menghadap saya pun diberikan arahan kembali oleh Pak atase Pendidikan diruangan beliau, ketika sudah mendapatkan tempat tinggal segera berkemas dan pindah ketempat yang baru, dibantu oleh pak riyono utomo staf atase pendidikan untuk membantu kami ke tempat jasa pencarian penyewaan apartemen, ke atm untuk mencairkan uang, tanda tangan kontrak penyewaan apartemen, pencarian keperluan apartemen dan pelaporan izin tinggal. setelah pengarahan selesai kembali menyesuaikan untuk segera melaksanakan sholat ashar yang ternyata sudah dapat sholat ashar pukul 16.19 .

Pukul 17 waktu Beijing waktunya jam pulang kantor dan waktunya kembali ke penginapan dengan menggunakan bis yang sama dan waktunya mengingat-mengingat kembali jalan untuk pulang kepenginapan, karena harus mulai sudah belajar dan membiasakan diri dengan membaca,mendengar dan berbicara dengan bahasa setempat。

Ada pepatah bilang “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung: haruslah mengikuti atau menghormati adat istiadat di tempat tinggal kita.

Demikian tulisan ini saya buat, nantikan tulisan saya selanjutnya Semoga di dalam tulisan ini terdapat hal-hal bermanfaat untuk kita semua. Aamiin.

Penulis
Agustina Indah Rizki, S.Kom, M. Kom
Peserta Magang pada Satuan Kerja Atase Pendidikan dan Kebudayaan, KBRI Beijing, China.

Share entrepreneurship

Telah di Baca 77 kali