Alexander Sutherland Neill (1883 – 1973)

Telah di Baca 1638 kali

A.S. NEIL (1883 – 1973)

Peter Hobson

Saya percaya bahwa memaksakan apa pun dengan kekuasaan adalah salah. Seorang anak seharusnya tidak melakukan apapun sampai ia mampu berpendapat-pendapanya sendir-bahwa itulah yang harus dilakukan.

Alexander Suthenland Neill lahir di kota kecil Forfar, Skotlandia,  Iima puluh mil sebelah utara  Dundee pada  1883.  Ayahnya, George Neill, adalah seorang  guru  (schoolmaster) yang mengajar di tetangga desanya, Kingsmuir  tempat Neill bersekorah.  Setelah lulus. Pada usia empat belas tahun dan bekerja di berbagai bidang selama dua tahun, Neill menjadi guru magang (Epprentice schoolmaster) pada 1899. Ia menjadi guru yang tak memiliki sertifikat mengajar selama empat tahun dan kemudian berhasil mengikuti matrikulasi di Edinburgh University.  Di sana ia mempelajari seni dan, walaupun kurang menunjukkan antusiasnya untuk kegiatan di universitas, ia berhasil lulus pada 1905 dalam bidang Sastra Inggris.  Kemudian mengajar selama dua belas tahun di sekolah-sekolah milik pemerintah (goverment school) Skotlandia.

Neill bergabung dengan British Army pada 1917 dan kehidupannya menuju ke arah yang tebih positif setelah perang.  Ia perama kali mengajar di sebuah sekolah percobaan baru (King Alfred School)  dan kemudian pada 1921 menjadi editor pembantu Ny. Ensor, pendiri New Education Fellowship.  Meskipun hubungan dengannya tidak bertahan lama,  Neill tetap memiliki komitmen kuat terhadap pendidikan baru yang sangat berbeda dengan pendidikan tradisional yang pemah dirasakannya.

Kesempatan untuk mewujudkan idenya tiba tahun 1921 ketika ia diundang untuk bergabung menjadi staf sebuah sekolah progresif di Dresden,  Jerman. Ia menetap di sana sampai 1923 saat sekolah tersebut pindah ke sebuah biara kosong di dekat Wina. Namun karena muncul kesulitan dengan masyarakat setempat  Neill terpaksa kembali ke Inggris pada 1924.  Lantas ia mendirikan sekolah di Lyme Regis bersama  Ny. Neustatter, yang bekerja dengannya di Jerman dan Austria sekaligus dinikahinya kemudian pada 1927.  Sekolah tersebut diberi nama Summerhill sesuai nama gedungnya.

Neill mulai mengimplementasikan secara sistematis berbagai  ide revolusionemya tentang kebebasan anak didik dan pengurangan otoritas guru Sekolah tersebut menjadi sangat terkenal dan relatif sukses, kendati yang mendaftar pada periode tersebut rata-rata hanya empat puluh orang Tahun 1927 sekolah tersebut pindah ke Ieiston,  Suffolk  sekitar 100 mil sebelah utara kota London, dan sampai sekarang mungkin merupakan sekolah progresif paling terkenal di negara-negara berbahasa Inggris. Setelah Neill meninggal pada 1973,  sekolah tersebut dijalankan oleh isteri keduanya,  Ena, sampai masa pensiunnya tahun 1985 dan kemudian diteruskan oleh anak perempuannya, Zoe.

Luasnya pengaruh sekolah  Summerhill ini dapat dinisbatkan pada dua puluh buku karya Neill yang ditulisnya antara  1915-1972.  Dalam buku-buku itulah dijelaskan secara rinci dan lugas berbagai ide pendidikannya.  Salah satu karya buku yang sangat berpengaruh  (dengan angka penjualan sekitar dua Juta buku)  adalah Summerhill,  sebuah kumpulan tulisan  yang pertama kali diterbitkan di Amerika Serikat tahun 1960,  kemudian di Inggris pada 1962,  dan edisi  paperback  dari Penguin diterbitkan tahun 1968.  Sejak awal buku ini, secara gamblang ia menyatakan komitmennya kepada kebebasan anak  “Kita merancang sebuah sekolah yang memungkinkan anak-anak menjadi dirinya sendiri. Untuk mengupayakan hal tersebut kita harus mengesampingkan semua disiplin, arahan  saran, ajakan moral  dan perintah agama.”   Anak  jangan pemah dipaksa untuk belajar,  dan memang prinsip utama Summerhill  adalah bahwa anak mengikuti pelajaran secara sukarela betapa pun usianya. Hanya belajar yang dilakukan secara sukarelalah  yang bernilai,  tulis Neill,  dan anak akan mengenal dirinya sendiri apabila  mereka telah siap untuk belajar.

Anak hanya akan mencapai kebahagiaan jika mereka bebas.  Sebab kebanyakan ketidakbahagiaan itu ditimbulkan oleh adanya rasa permusuhan dalam diri (inner hostility)  yang tercipta dari tekanan eksternal.  Di sini Neill dipengaruhi oleh teori Freud dan percaya bahwa karena rasa permusuhan dalam diri ini tidak dapat diungkapkan secara efekif, kepada orang tua ataupun orang lain yang berkuasa, maka perasaan  tersebut tetap bersemi dalam diri  dan menjadi benci diri sendiri ( self hate). Nantiya  perasaan tersebut akan terungkap dalam perilaku . anti sosial dan yang paling buruk akan melahirkan “anak bermasalah”.  Anak-anak seperti inilah yang dikirim ke Summerhill dan  “diobati”, tegas Neill, dengan penerapan kehidupan yang bebas untuk pertama kalinya dalam hidup mereka.

Kebahagiaan, bagi Neill dengan demikian berarti keadaan tekanan minimal.  Dalam istilah positif keadaan itu terdiri dari  “perasaan yang baik dalam diri  ( innerfeeling of well-being), keseimbangan dan kepuasan dengan hidup nya” . Perasaan itu hanya ada apabila anak merasa bebas. Pendidikan konvensional melakukan kesalahan dengan lebih mengutamakan intelek daripada emosi. Akibatnya, anak mungkin mengetahui banyak fakta, namun kurang memiliki kepuasan dan pemenuhan diri (fulfillment ) . Neill pun menganjurkan  “Hearts Not Head in The Schools” (Flati, Bukan Otak, Yang diutamakan di Sekolah), yang sekaligus juga meniadi salah satu judul bukunya.  “Jika emosi  dibiarkan benar-benar bebas, maka intelek akan tercapai dengan sendiri,” tegasnya.

Mata pelajaran akademis tradisional pada umumnya masih dipakai di Summerhill, namun tidak ditekankan. Salah satu bidang kurikulum yang lebih ditekankan adalah estetika (seni rupa, kerajinan, menari, drama dan lain-lain)  yang dianggap Neill dapat mendorong kreativitas, imajinasi, dan kenyamanan emosional (emotional  well-being. Sebenarnya, pelajaran-pelajaran tersebut memiliki fungsi terapeutis bagi anak yang memiliki permasalahan psikologis dan memberikan kesempatan kepada anak yang secara akademis kurang cakap untuk menunjukkan Kemampuannya.

Kepercayaan Neill yang kuat pada kebebasan terkait dengan pendirian lainnya yang laik diperhatikan, bahwa kebaikan anak dibawa sejak lahir.  “selama lebih dari 40 tahun,”  tulis Neill,  “kepercayaan terhadap kebaikan anak yang dibawa sejak lahir tak pemah bahkan sudah menjadi keyakinan utama.”

Ia juga percaya bahwa sejak lahir anak sudah bijak dan realistis. jika dibiarkan sendiri tanpa saran apa pun dari orang dewasa ia akan berkembang sejauh kemampuanya untuk berkembang. Pendiri ini  merupakan faktor yang kuat dalam penolakan Neill terhadap pendidikan formal dan agama. Jika seorang anak dibiarkan berkembang secara alami, maka ia tidak akan membutuhkan paksaan  dan sanksi moral serta  ajaran agama karena kebaikan alamiahnya akan terungkap dengan sendirinya.  Neill lebih jauh lagi menegaskan bahwa  “Saya percaya bahwa perintah morallah yang membuat anak menjadi nakal. Saya menduga apabila saya meruntuhkan ajaran moral yang diterima anah nakal, ia justru akan menjadi anak yang baik.”  Agama, menurutnya, sama sekali tidak diperlukan, “Anak bebas yang menghadapi hidup dengan hasrat dan keberanian yang besar sama sekali tidak membutuhkan Tuhan.”

Pada dasarnya, tidak ada tempat bagi hukuman berdasarkan otoritas di Summerhill. “Hukuman akan selalu menjadi tindakan kebencian (act of bate),”  tegas Neill dan anak yang mandiri tak pernah membutuhkannya. Lantas bagaimana kontrol sosial diberlakukan di Summethill? Sekolah dikelola sedemokratis mungkin dan keputusan – keputusan terpenting dalam pengelolaan sekolah ditentukan  dalam rapat umum mingguan di mana setiap orang (termasuk Neill) memiliki satu suara dan keputusan mayoritaslah yang berlaku. Apabila seorang anak bersalah karena perilaku antisosial seperti mengganggu orang lain, suatu hukuman yang tepat akan diPutuskan oleh kelompok itu dan hukuman tersebut sering dalam bentuk denda atau sanksi, contohnya, mengurangi uang saku atau tidak diperbolehkan menonton fiIm.  Pendekatan ini memberikan  pengalaman yang berharga kepada anak dalam menjalani kehidupan mereka dan secara umum pendekatan tersebut dianggap sebagai aspek keberhasilan di Summerhill oleh sebagian besar pengamat.

Bagaimana Neill tetap mempertahankan dan begitu terikat dengan kepercayaannya sehingga ia menghabiskan seluruh hidupnya untuk mewuiudkan kepercayaan tetsebut walaupun cercaan  dan  kritik terus menerus menyerangnya?  Tidak diragukan lagi bahwa faktor penyebab utama Neill memiliki kepercayaan tersebut adalah karena pengalaman bersekolah dan belajar di universitasnya yang tidak menyenangkan, dan  Summerhill dapat dilihat sebagai bentuk penolakan penuh terhadap pendekatan otoritarian tradisional terhadap pendidikan. Apabila dihubungkan dengan teoritisi pendidikan lain yang telah mempengaruhinya, maka yang paling banyak mempengaruhinya adalah pandangan Rousseau bahwa kepercayaan terhadap kebaikan alamiah seorang anak kebebasan penuh anak didik, dan arti penting emosi, di atas segalanya.  Padahal Neill belum membaca Emile sampai lima puluh tahun setelah pembukaan Summerh.  Neill juga mengakui bahwa ia agak kecewa ketika membaca karya Rousseau tersebut dan dengan tepat ia mengatakan bahwa’ Emile memang  bebas, namun dalam suatu lingkungan buatan yang diatur oleh gurunya Summerhill adalah lingkungan juga, namun komunitaslah yang meneruskan,  bukan guru secara individual.”

Neill sangat dipengaruhi oleh banyak tokoh kontemporer seperti Freud berkenaan dengan pentingnya menghindari rasa bersalah dan tekanan seksual, Wilheim Reich dalam hal kebebasan seksual dan pentingnya pengaturan diri (self-regulation),  Homer Lane kaitannya dengan pengelolaan diri  (self-government) dan gagasannya mengenai ganjaran (rewarding) sebagai pengganti hukuman (punishing) terhadap anak karena perilaku anti sosial (contohnya, menjawab dengan kasih sayang bukan dengan kebencian). Neill mengenal Reich dan Lane dengan baik dan menuliskan satu bab khusus dalam bukunya untuk mereka dan pengaruh keduanya terhadap Neill diungkapkan dalam autobiografinya, Neill, Neill Orange Peel.

 Selama bertahun-tahun, Neill telah menerima banyak kritik  dan pujian, sebagian di antaranya agak ekstrem. Misalnya  dalam Summerhill For and Against, kita bisa menemukan seorang penulis yang mengatakan bahwa ia lebih baik mengirimkan anaknya ke tempat pelacuran  daripada ke Summerhill, sementara penulis lain mengistilahkan Summerhill sebagai “tempar suci”.  Sebagian serangan yang ditujukan kepada Neill  dapat dianggap sebuah reaksi konservatif berlebihan terhadap eksperimen pendidikan  baru yang radikal namun ada beberapa gagasan Neill  yang memang rentan terhadap kritik.

Pertama, ia tidak mempunyai filsafat pendidikan yang disusun secara sistematis, terutama teori pengetahuan  yang koheren. Ide-idenya terutama didasarkan pada pengalaman dan pengamatan, dilengkapi  dengan  kajian teori psikologis  (terutama psikoanalisis).  Pengalaman memang merupakan bagian yang penting dari teori pendidikan apapun, namun perlu dilengkapi oleh pandangan filosofis mengenai topik-topik seperti hakikat pengetahuan,  proses belajar, moralitas, hakikat manusia, masyarakat dan lain-lain. Tulisan-tulisan Neill sangat mudah dipahami karena fokusnya terhadap hal-hal yang praktis, namun sekaligus juga tersusun dari penegasan yang tidak didukung, pernyataan yang terlalu belebihan dan kecenderungan untuk melakukan generalisasi terhadap kasus-kasus individual (misalnya anekdot tentang anak didik tertentu) dalam prinsip pendidikan yang universal. Ia juga terlalu menyederhanakan persoalan-persoalan filosofis yang kompleks seperti perbedaan krusial antara kebebasan  (freedom) dan keleluasaan  (license), yang menurut  Neill keduanya cukup dibedakan secara konseptual  dan sekadar memberikan contoh-contoh tindakan, baik untuk kebebasan maupun keleluasaan.  Yang tidak ditemukan dalam tulisannya adalah  prinsip  yang jelas untuk memutuskan mengapa sebagian kasus masuk dalam satu kategori dan kasus lain masuk dalam kategori lain, dan prinsip untuk membantu menyelesaikan konflik-konflik kepentingan dalam situasi seperti itu.

Dapat disebutkan pula bahwa Neill memiliki pandangan yang terlalu sederhana dan ketinggalan Zaman mengenai pendidikan moral dan agama yang dianggapnya  sebagai bentuk  otoritarian dan mendikte (didaktik).  Gagasan modern tentang pendidikan moral dan otonomi agaman yang diperkenalkan dengan diskusi terbuka kepada anak tampaknya bukanlah bagian dari pemahamannya.  Tak pelak lagi sebagian besar dari apa yangdialami dan diamatinya dalam bidang ini justru selaras dengan model tradisional yang ditulisnya.

Permasalahan penting lain dari Summerhill adalah adanya bias anti intelektual yang dibawa Neill. Apakah proses belajar tidak penting sebagaimana yang dinyatakannya?  Apakah  buku benar-benar merupakaa sarana  “yang paling kurang penting di sekolah”?  Apakah anak selalu mengetahui pendidikan yang terbaik bagi mereka? Dapatkah seseorang sepenuhnya memanfaatkan kebebasannya tanpa memiliki pengetahuan dan pemahaman yang kukuh  mengenai dasar-dasar untuk menentukan pilihan-pilihan yang berarti ? Mengapa relevansi pendidikan harus selalu bersifat praktis dan langsung? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mengemuka manakala membaca karya Neill,  dan pendirian serta ketulusan hatinya menunjukan sebuah dimensi utama pendidikan yang gagal diakuinya secara memadai.

Salah satu pengujian yang baik terhadap teori pendidikan adalah mengemukakan pandangan dari mereka yang sungguh-sungguh telah menjalankan pandangan tersebut. Dua survei terhadap mantan  murid Summerhill temyata menemukan reaksi yang sama. Menurut mereka yang sangat menghargai Summerhill, sekolah itu telah membuat mereka lebih mandiri, lebih mampu menghadapi orang yang memiliki otoritas,  dan lebih toleran. Sebagian lainnya mengatakan bahwa sekolah itu benar-benar membantu mereka mengatasi setiap kesulitaan yang dialami dalam kehidupan, yang mungkin tidak dapat mereka atasi andaikan mereka belajar di sekolah tradisional.  Namun, sebagian kecil mantan murid Summerhill mengatakan bahwa sekolah itu sungguh-sungguh tidak dapat membantu-mereka umumnya mereka adalah murid introver (sifat lebih memikirkan diri sendiri, pemalu-penerjemah) yang mengatakan bahwa Summerhill lebih cocok untuk murid ekstrover (sifat yang lebih memikirkan hal-hal lain di luar dirinya-penerjemah). Yang menarik, mereka yang mengkritik Summerhill adalah murid yang masa pendidikannya di Summerhill lebih lama. Jika terdapat keluhan, biasanya berkenaan dengan kelemahan sisi akademis dari pendidikannya dan tidak adanya guru yang dapat mencerahkan mudd-muridnya.

Dari uraian tadi tampak bahwa Summerhill bukan merupakan jawaban bagi semua persoalan pendidikan dan tidak dapat memberi manfaat bagi semua jenis anak. Kendati demikian, ada  nilai tertentu dari Summerhill yang bisa ditawarkan dan berguna dalam memberi alternatif radikal bagi sistem pendidikan konvensional, yang menunjukan bahwa pendidikan yang didasarkan pada kebebasan anak sebenarnya dapat diwujudkan. Salah satu yang membuat sekolah ini sukses dalam jangka waktu lama adalah kepribadian kharismatik Neill dan kasih sayang  serta pengertiannya yang luar biasa terhadap anak. (Hal inilah yang juga dikomentari oleh para bekas murid Summerhill.)

Bagaimana kemudian masa depan Summerhill? Pemeriksaan OFSTED (Office for Standard in Education) pada Maret 1999 mengkritik aspek-aspek tertentu dari sekolah ini dan merekomendasikan  perlunya perubahan-perubahan signifikan.  Pihak sekolah melakukan banding atas hasil pemeriksaan tersebut dengan menyatakan bila rekomendasi itu harus diterima, maka filsafat dasar sekolah ini  akan terancam. Pada Maret 2000, sekolah tersebut memenangkan bandingnya di pengadilan dan paling tidak untuk sementara dapat mempertahankan keutuhan prinsip dasarya.

Sumber : Sumber:  “ Buku 50 Pemikir Pendidikan “ Dari Piaget Sampai Sekarang” Editor Joy A. Palmer

Share entrepreneurship

Telah di Baca 1638 kali

Ditulis oleh Tata Sumitra dan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.